Social Media
Social Media · Vol. 1
Threads di Indonesia 2026 — 6 bulan observasi dari 12 brand SMB
12 brand SMB yang saya kelola atau observe pakai Threads sejak November 2025. Engagement rate, content yang work, dan kenapa Threads tidak menggantikan Instagram — tapi melengkapi dengan cara yang berbeda dari Twitter/X.
November 2025, saya mulai serius monitor Threads untuk 12 brand SMB klien saya. Sebelumnya cuma “ada akun, post seminggu sekali, lupa”. Setelah 6 bulan observasi sistematis, saya punya data yang konsisten — dan opini yang surprising.
Disclosure: data berikut adalah aggregat dari 12 brand di kategori: 4 F&B Tangerang/BSD, 3 SaaS lokal, 2 fashion DTC, 2 konsultan profesional, 1 e-commerce. Follower count range: 800 sampai 12 ribu. Saya anonymize spesifik brand karena beberapa klien tidak ingin disebut.
Konteks: kenapa Threads relevan untuk SMB Indonesia 2026
Threads launch Juli 2023 sebagai Twitter/X competitor dari Meta. Adopsi awal lambat di Indonesia. Tapi ada inflection point di Q4 2024 ketika fitur “Twitter integration” + “Quote thread” + ActivityPub support mulai naik signifikan.
Per data internal Meta (publik via Ads Manager) untuk SMB Indonesia Q1 2026: ~28 juta MAU Threads di Indonesia, vs Twitter/X ~22 juta. Threads sudah lebih besar dari Twitter di Indonesia. Tetapi yang berbeda: 67% Threads user di Indonesia juga aktif di Instagram (cross-platform), vs cuma 31% Twitter user yang aktif Instagram.
Artinya: audience Threads di Indonesia overlap signifikan dengan Instagram audience. Bukan audience baru — audience yang sama menggunakan platform yang berbeda untuk konteks yang berbeda.
Pola engagement: apa yang work, apa yang tidak
Dari 12 brand × ~80 post per brand selama 6 bulan = ~960 post analyzed. Pattern yang muncul:
Yang work (engagement rate >5%):
1. Opinion + reasoning (3-5 paragraf) Bukan one-liner Twitter style. Threads audience prefer post yang punya thesis + supporting argument. Brand B2B konsultan terbaik di sample saya post 3-5 paragraf per post dengan rasio engagement 7-9%.
2. Pertanyaan yang spesifik untuk audience “Apakah Anda lebih suka standalone tools atau all-in-one platform?” → 234 replies, 87 reposts dari brand SaaS lokal. Generic question seperti “Apa pendapat kamu?” gagal — rasio engagement <2%.
3. Behind-the-scenes process Foto + caption yang menjelaskan “kenapa kami membuat keputusan X” (product decision, design choice, hiring philosophy). Audience Threads lebih curious tentang reasoning dibanding output. Brand fashion DTC dengan post “kenapa kami berhenti pakai supplier A” — 12% engagement rate.
4. Cross-post Instagram yang re-contextualized TIDAK direct cross-post (algorithm cap reach). Tapi mengambil insight dari IG Reels caption dan expand jadi 3-paragraf opini. Tidak lazy, tapi efficient — same insight, format berbeda untuk audience yang sama-tapi-beda-mood.
Yang tidak work:
1. Pure link-out tanpa context “Baru publish artikel baru, baca di [link]” → ~0.3% engagement, traffic via link <1%. Audience Threads resist link tanpa value preview.
2. Memes generic Throwaway memes yang tidak punya hubungan dengan brand voice. Plays badly di Threads dibandingkan Twitter/X. Threads users prefer signal.
3. Carousel-style multi-post threads Threading 5+ post sebagai satu konten — work di Twitter, gagal di Threads. Algorithm Threads cenderung surface individual post, bukan threads, sehingga thread #2-5 dapat <20% reach dari thread #1.
Data: engagement rate aggregate
| Kategori brand | Threads ER | Instagram ER | Rasio |
|---|---|---|---|
| F&B (4 brand) | 3.8% | 1.5% | 2.5x |
| SaaS lokal (3) | 6.2% | 1.9% | 3.3x |
| Fashion DTC (2) | 2.1% | 2.8% | 0.75x |
| Konsultan (2) | 8.4% | 1.4% | 6.0x |
| E-commerce (1) | 1.7% | 2.3% | 0.7x |
Pattern: kategori dengan banyak narasi/opini (konsultan, SaaS, F&B story) menang di Threads. Kategori visual-first (fashion, e-commerce) lebih kuat di Instagram. Bukan kompetisi — beda use case.
Yang surprising
Saya expect Threads jadi “Twitter killer” untuk Indonesian SMB. Reality: Threads lebih dekat “Instagram extension” — same audience, mode interaksi berbeda. Threads adalah tempat audience Instagram membaca opinion + context yang tidak muat di IG caption.
Implikasi: bukan trade-off Instagram vs Threads. SMB dengan budget waktu terbatas tidak perlu pilih. 30 menit per minggu untuk Threads layak ditambah ke 3-5 jam per minggu untuk Instagram, bukan mengganti.
Rekomendasi praktis untuk SMB
-
Setup Threads via Instagram Business. Jangan create separate account — username sama mengurangi confusion audience.
-
Schedule via Buffer/Hootsuite/Later (semua sudah support Threads sejak Q3 2025). Manual posting daily tidak sustainable.
-
Topic mix: 60% original opinion/observasi, 30% pertanyaan ke audience, 10% behind-the-scenes process.
-
Cross-link cautious: max 1 link-out per 5 post. Audience resistance tinggi terhadap pure linking.
-
Reply ke top 10% reply per post. Audience growth Threads terjadi via meaningful conversation, bukan broadcast. Reply yang bagus dapat impressions sama dengan original post.
Verdict
Threads di Indonesia 2026 bukan revolusi, tapi consolidation. Audience yang sama dari Instagram + Twitter sekarang punya tempat untuk opinion + reasoning yang tidak muat di format kedua platform tersebut. Untuk SMB yang punya perspective yang layak dibagikan, Threads layak ditambah. Untuk SMB yang murni produk visual, prioritas tetap di Instagram.
Bukan platform yang harus dipakai semua orang. Tetapi untuk yang fit, ROI per jam investasi adalah salah satu yang tertinggi di social media stack 2026.
Tags
Lagi di Social Media
№ 01Social Media