SERPONG tech
Vol. 1 · Issue № 03 · Juli 2026

Founder Interview · Vol. 1

Founder Interview: SaaS HR di Serpong yang pivot 3x dalam 2 tahun

Wawancara dengan founder SaaS HR yang berbasis di Serpong, BSD. Tiga pivot besar dalam 24 bulan: dari HRIS lengkap ke payroll-only ke compliance-only ke akhirnya freelancer onboarding. Pelajaran kapan pivot, kapan persist.

26 Mei 2026 · 10 menit baca · by Reno Adipraja

Saya wawancara founder ini akhir April 2026. Anonymized: “Pak T” — founder SaaS HR yang berbasis di salah satu coworking BSD City, founded Januari 2024. Pak T mengizinkan saya tulis cerita pivot beliau dengan syarat: nama brand, nama tim, nama klien — semua anonymized.

Berikut transcript yang sudah saya edit untuk readability, dengan komentar saya untuk konteks.

Pivot 0: hipothesis awal (Januari 2024)

Pak T: “Saya keluar dari [SaaS scale-up Singapore-based] akhir 2023. Hipothesis saya: ada banyak SMB Indonesia yang masih pakai Excel untuk HR. Excel + Google Forms + WhatsApp untuk leave request, payroll calculation, dan onboarding. Saya pikir: bikin HRIS yang dipakai oleh SMB dengan 20-50 karyawan, hampir gratis (Rp 50rb/karyawan/bulan), focus integrasi WhatsApp.”

Konteks saya: Saat itu memang ada gap besar. Talenta, Mekari, dan competitor besar lainnya menargetkan SMB 50+ karyawan dengan pricing Rp 100-200rb/karyawan. Mid-market (20-50 karyawan) underserved.

Pak T: “Saya raise pre-seed Rp 2.5 milyar dari angel local. 22 bulan runway. Mulai develop produk Januari 2024 dengan 5 engineer.”

Pivot 1: dari full HRIS ke payroll-only (Juni 2024)

Pak T: “Setelah 5 bulan development, kami launch beta dengan 3 pilot customer. 3 bulan kemudian (Agustus 2024): 8 paying customer, MRR Rp 12 juta. Sangat lambat. Sales cycle 6-8 minggu per customer untuk product priced Rp 1.5 juta/bulan. ROI per sales hour sangat buruk.”

“Saya analyze churn calls dan onboarding feedback. Pattern: SMB use cuma 2-3 module dari 8 yang kami offer. Yang dipakai konsisten: payroll, attendance, leave. Yang dibayar tapi tidak dipakai: performance review, learning, recruiting.”

“Pivot 1: cut module yang tidak dipakai. Focus payroll + attendance + leave saja. Pricing turun ke Rp 35rb/karyawan/bulan. Reposition sebagai ‘payroll yang punya HR feature’ bukan ‘HRIS lengkap’.”

Result 6 bulan post-pivot: 34 paying customer, MRR Rp 78 juta. Growth pickup, tapi masih slower than expected.

Komentar saya: Pivot 1 adalah classic “kill features no one uses”. Bukan pivot besar — masih dalam category yang sama. Yang berubah: positioning dan scope.

Pivot 2: dari payroll ke compliance-only (Januari 2025)

Pak T: “Awal 2025 ada regulatory change dari Kementerian Ketenagakerjaan: kewajiban e-reporting untuk SMB di Jawa-Bali (BPS data submission, BPJS sync automatic, PPh21 monthly filing). Banyak SMB panik karena cost compliance tinggi via konsultan.”

“Salah satu customer kami (klinik di Jakarta) tanya: ‘bisa kalian handle e-reporting saja? Saya tidak butuh full payroll’. Saya cek market — ada gap. Compliance-as-a-service untuk SMB belum ada di Indonesia.”

“Pivot 2: split product. Existing payroll customer tetap (12% MRR), tapi product line baru: compliance-only untuk SMB yang sudah punya payroll lain tapi butuh outsource compliance.”

“Pricing compliance: Rp 750rb/bulan flat untuk SMB <50 karyawan, Rp 1.5 juta untuk 50-100. Margin tinggi karena pemerintah API tidak charge per call.”

Result 5 bulan post-pivot 2: 67 compliance customer + 34 payroll legacy, MRR Rp 195 juta. Growth 2.5x dari pre-pivot 2.

Tapi: churn dari payroll legacy customer naik. Mereka feel deprioritized. 12 dari 34 churn dalam 4 bulan. Dilemma: invest di payroll legacy atau abandon?

Pivot 3: kill payroll legacy, focus freelancer onboarding (Juni 2025)

Pak T: “Mei 2025, saya buat keputusan: kill payroll legacy. Refund 6 bulan untuk yang masih pakai, recommend mereka ke kompetitor. Painful tapi pasti.”

“Tapi pivot besar bukan kill, melainkan apa yang sub-focus next. Saya notice: 40% compliance customer baru adalah agency/konsultan yang manage compliance untuk multiple SMB klien mereka. Mereka not really menggunakan platform sebagai user — mereka use sebagai infrastructure backend untuk service mereka.”

“Pivot 3: reposition compliance product as ‘compliance infrastructure for HR/payroll agencies’. Pricing model berubah ke usage-based: Rp 50rb per SMB managed per bulan, plus monthly platform fee Rp 500rb untuk agency.”

“Lebih penting: tambah produk side baru — ‘freelancer onboarding kit’ untuk agency yang manage banyak freelance worker (creative agency, consulting firm, dev shop). Compliance + freelancer admin = pain point spesifik agency.”

Result 5 bulan post-pivot 3 (mai 2026): 12 agency customer manage 340 SMB total, MRR Rp 470 juta. 4x growth dalam 5 bulan, dan growth velocity meningkat (compounded).

Apa yang saya pelajari dari Pak T

1. Pivot bukan kegagalan, tapi data-driven adjustment Tiga pivot Pak T semuanya didorong oleh data: usage pattern (Pivot 1), market signal regulatory (Pivot 2), customer behavior unexpected (Pivot 3). Tidak ada pivot yang dilakukan karena “feeling” atau “anjuran investor”.

2. Pivot baik adalah narrowing, bukan widening Setiap pivot Pak T narrowed market: SMB → SMB payroll → SMB compliance → Agency-managed SMB compliance. ICP semakin specific, sales cycle semakin pendek, ARPU naik.

3. Runway yang panjang adalah enabler pivot 22 bulan runway awal memungkinkan 3 pivot tanpa panic. SMB SaaS founder dengan <12 bulan runway tidak punya space untuk pivot — mereka stuck di hipothesis pertama.

4. Team dinamika cepat memburuk dengan multiple pivot Pivot 1 tim solid. Pivot 2 mulai kehilangan 2 dari 5. Pivot 3 tim skeptical tapi stay karena equity. Honest communication adalah satu-satunya yang menjaga team trust di multi-pivot scenario.

5. Investor support sometimes lebih penting dari market signal Pak T’s investor (1 angel) supportive di pivot 1 dan 2. Pivot 3 ada friction — investor wanted Pak T to “double down” pada compliance. Pak T justify dengan data agency adoption. Investor agreed setelah 2 jam diskusi data-driven.

Status hari ini

Pak T’s company sekarang berkomitmen pada Pivot 3 direction. Q2 2026 fundraising round (Series A) sedang berlangsung. Outlook positif tapi belum confirmed.

Cerita ini bukan success story (belum tahu outcome akhir). Cerita pivot. Tetapi pattern-nya — narrowing focus, data-driven decision, team communication transparent — adalah pattern yang konsisten dengan SaaS founder lain yang saya wawancara di BSD/Serpong area sejak 2024.

Verdict

Pivot tidak romantis. Pivot adalah painful, time-expensive, dan team-dynamics destructive jika tidak dihandle dengan benar. Tetapi Pivot yang dilakukan dengan baik adalah skill founder paling underrated di pasar Indonesia.

Founder yang stubborn dengan hipothesis awal yang gagal kehilangan runway sebelum belajar. Founder yang pivot tanpa data berputar-putar tanpa progress. Founder yang pivot dengan data + team communication baik (seperti Pak T) memiliki probability tertinggi untuk reach PMF.

Yang menarik dari Pak T: dia tidak rasa “fail” dengan 3 pivot. Dia rasa “iterating with discipline”. Mindset itu — bukan technical skill — adalah yang membedakan founder yang survive dari yang tidak.

Tags

Founder InterviewSaaSBSDPivot

Lagi di Founder Interview

№ 01

Founder Interview

Founder Interview: 18 bulan dari ide ke product-market fit, SaaS B2B di BSD


← Journal Arsip